Skip to content

Bosan Jadi Orang Beriman

2010 April 8
tags:
by soeyoeno

Pernah suatu ketika saya mendapatkan pernyataan dari seorang kyai dalam sebuah obrolan ringan di surau kampung kami. Pernyataan singkat saja, tapi bikin otak saya berkerja ekstra keras untuk memikirkanya.  Dia mengatakan “Menurut saya lebih baik kita menjadi orang yang tidak beriman dibanding orang beriman” ujarnya santai kepada saya. Mendengar hal tersebut saya hanya terdiam dan mencoba mencari-cari jawaban atas pernyataan itu. Bukannya apa, kalau dilihat dari bentuk pertanyaannya anak kecilpun tau bahwa lebih baik menjadi orang berimn dari pada tidak beriman, itu jelas. Tapi yang jadi masalah, adalah, pernyataan itu di lontarkan oleh seseorang yang saya anggap selama ini rajin ibadah, berprilaku baik, orang yang ramah serta dermawan dan tak ada masalah dalam kehidupan pribadi dan sosialnya.

Itulah yang membuat pertanyaan tersebut menjadi kontra produktif anggapan saya selama ini tentang kyai. Karena saya pikir pernyataan itu tak hanya muncul begitu saja tanpa sebuah proses berpikir dan juga pengalaman spiritual beliau.Namun daripada saya bingung mendingan saya langsung tanyakan pada beliau mengapa bisa begitu. “Mengapa lebih tidak beriman daripada beriman pak kyai?, apakah itu justru menyalahi keharusan yang wajib kita lakukan sebagai orang beragama?”. Ujar saya menanyakan hal tersebut. Pak kyai kembali bertanya “Apakah kamu bisa menilai bahwa kamu sudah beriman dan apakah kamu punya alat indikator yang mengetahui bahwa kamu dinyatakan  beriman?”. Saya bengong seribu bahasa, semakin tidak mengerti apa maksud pak kyai, kok jadi orang berimam dilarang.

“Begini saja pak kyai, mendengar pernyataan pak kyai saya tambah bingung dan “nggak mudeng” jadi tolong jelaskan mengapa lebih kita lebih baik jadi orang tak beriman dibanding orang beriman.

Sambil senyum kyai berkata, “Kamu baca Koran hari ini atau nonton TV pagi tadi?”

” Ya saya membaca nan menonton” jawab saya.

”Apa yang ramai di koran hari ini” tanya kyai

”Kasus penggelapan pajak dan pelecehan seksual kyai” ujar saya

”Apa penilaian kamu terhadap kasus-tersebut” tanya kyai kembali

”Untuk kasus pajak itu keterlaluan kyai, masa ada aparat makan duit pajak, dan kasus pelecehan seksual……” berpikir sejenak…. ”saya nggak bisa menilai penyebabnya” jelas saya.

”Itulah kita anakku, kita seringkali  menyatakan beriman, dipihak yang benar, dan selalu mengkampanyekan kebenaran dan keiman kita itu kepada orang lain, padahal kita belum sama sekali beriman, bahkan sepenggal kukunya saja belum” dengan kata lain orang yang dalam kondisi merasa sudah beriman, didalam hatinya lebih cenderung ”melawan” ketidak berimanan, berusaha semaksimal mungkin untuk tetap mengkondisikan hatinya menjadi orang beriman dan baik, namun menurut saya, sesuatu yang terlalu dibuat-buat dan dikondisikan (walau itu untuk beriman terhadap diri sendiri) hanya akan menjadi fatamorgana kebenaran. Merasa indah dan membuai tapi terasa berat untuk dilakukan.

”Seolah untuk jadi orang beriman itu sebuah beban dan tanggung jawab berat,” bila keimanan jenis itu yang masih kita rasakan maka kita tergolong masih merasa beriman. Karena beriman sebuah pembebasan hati dan pikiran dari segala bentuk ”Rasa Beriman” dan hidup dengan ”Rasa masih tidak beriman” dan melakukan kegiatan bagaimana menjadi orang beriman secara terus menerus sepanjang hidupmu”, panjang lebar kyai menjelaskan.

”Jadi maksudnya, iman adalah gerak hidup kita pak kyai, bukan apa yang kita rasakan” saya semakin penasaran.

”Betul” ujar kyai.

”Jadi kebanyakan kita, entah itu Polisi, Kyai, Guru atau apa saja yang selama ini dianggap dan dikondisikan sebagai orang-orang yang selalu benar dan baik, harus lebih mawas diri dan berhati-hati terhadap label kebenaran (beriman), jangan sampai hanya membuat kita terbius dengan sebutan yang ada, itu formalitas dan kebanyakan menipu”. Tambah pak kyai.

”Orang yang merasa beriman, lambat laun karena berat atau lalai akan lelah membawa keimanannya tersebut, kemudian dia Bosan dengan keimanannya tersebut dan akhirnya bosan jadi orang yang beriman. Akhirnya menjadi tidak beriman beneran” ujar kyai kembali menjelaskan.

”Jadi anakku, tetaplah merasa bahwa dirimu bukanlah orang yang tidak beriman dan selalu melakukan dan berjuang bagaimana menjadi orang yang beriman agar kamu tidak bosan beriman. Karena biasanya kalau kita sudah sampai tujuan (imam) kita tak punya lagi tujuan selain menuju kepada ketidak imanan, dan tak ada istilah mempertahankan keimanan, yang ada adalah menjalani proses bagaimana menjadi orang beriman. Karena menjadi orang benar dan beriman itu adalah proses..bukan tujuan…”

Aku hanya manggut-manggut pusing nggak ngerti-ngerti dan kembali berpikir, apakah aku sudah beriman, merasa beriman atau hanya iman-imanan. Nah lo…..

http://soeyoeno.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/digg_24.png http://soeyoeno.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/stumbleupon_24.png http://soeyoeno.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/technorati_24.png http://soeyoeno.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/google_24.png http://soeyoeno.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/myspace_24.png http://soeyoeno.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/facebook_24.png http://soeyoeno.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/yahoobuzz_24.png http://soeyoeno.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/twitter_24.png
2 Responses leave one →
  1. April 8, 2010

    bahan renungan yang dalalam dari pak kyai …

    Kunjungan balik Mas.
    Terima kasih atas kunjungannya ke Blog saya.
    Salam kenal dan salam hangat selalu :)

  2. April 11, 2010

    mampir brooo

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS